Showing posts with label Artikel Islami. Show all posts
Showing posts with label Artikel Islami. Show all posts

Saturday, November 13, 2021

Islam, Kesehatan Mental, dan Kesedihan Para Nabi

 


Islam memandang kesehatan mental sebagai sesuatu yang amat penting. Sebagaimana Nabi Muhammad sendiri berkata bahwa beliau diutus untuk pengembangan pribadi dan karakter. “Sesungguhnya saya diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”  (HR Baihaqi dari Abu Hurairah RA)

Dalam Islam, kesehatan mental, mirip dengan kesehatan fisik, merupakan aspek yang sangat penting dalam kesejahteraan seseorang, karena merupakan bagian integral dari menjalani kehidupan yang sehat dan seimbang.  Kesehatan psiko-spiritual berhubungan langsung dengan kemampuan seorang Muslim untuk mengaktuliasikan tujuan spiritual primordial mereka. Semua manusia diciptakan untuk menapaki jalan yang menjamin keselamatan mereka di akhirat dan mampu memperoleh keridhaan Allah SWT.

Kesehatan dengan demikian, dianggap sebagai kemampuan individu untuk tetap berada di jalan ibadah. Sehingga, apapun yang dianggap merusak fungsi manusia patut diperhatikan.

Sayangnya, bahkan dengan berat dan seriusnya masalah ini, masalah penyakit mental itu sendiri adalah masalah yang tabu untuk dibicarakan baik di masyarakat kita yang lebih luas maupun di dalam komunitas Muslim. Setiap kali masalah ini diangkat, kesalahpahaman pasti akan mengikuti.  Orang awam sering kali melihat gangguan mental berdasarkan model yang berasal dari Pra Islam. Misalnya persepsi bahwa penyakit mental disebabkan oleh azab Allah, evil eye (penyakit ain), sihir, iri hati, atau roh gaib.

Ketika masalah ini dilihat dalam paradigma agama, seperti kerasukan jin, berarti individu tersebut kurang iman atau tidak rajin ibadah. Kemudian, perawatannya dianggap dengan membaca Al-Quran setiap hari, zikir, atau ruqyah.

Jika mengalami gangguan kesehatan mental, banyak orang awam Muslim meminta tolong pada ustadz atau imam mereka. Meskipun membaca quran, doa dan nasihat dapat menangkan hati, tetapi jika masalah yang dialami adalah klinis, intervensi itu mungkin tidak cukup. Selain itu, tentu saja akan ada gap antara seorang mental health profesional dan seorang ustadz dalam membantu pasien mengatasi masalah psikologis mereka yang bersifat klinis.

Wacana gangguan mental disebabkan oleh setan berasal dari orang Eropa abad Pertengahan. Pada akhirnya masih mendasari pemikiran orang awam di zaman modern, khususnya di kalangan komunitas Muslim. Secara historis, dunia Islam memiliki pendekatan yang sangat berbeda terhadap gangguan mental. Perspektif Islam terhadap kesehatan mental lebih holistik, dimana kesehatan mental dan kesehatan fisik yang positif itu saling berhubungan.

Para cendekiawan Muslim saat itu, seperti Ibnu Sina (pendiri Kedokteran Modern) menolak konsep tersebut dan memandang gangguan mental sebagai kondisi yang didasarkan pada masalah fisiologis. Begitu pula para filsuf, dokter, dan cendekiawan Muslim yang lain seperti Ar-Razi, Al-Bakhi, dan Ishaq Ibn Imran.

Bagaimanapun, Islam tidak menuntut kita untuk menjadi manusia super. Jika kita mengalami masalah kesahatan mental, kita dodorong untuk mengatasinya, melakukan Tindakan positif yang mungkin atau mencari bantuan profesional jika kasusnya klinis.

Kita sering berpikir bahwa emosi kita tidak valid atau menekan perasaan kita sendiri. Jika kita merasakan hal yang "tidak seharusnya," kita merasa diri kurang iman. Padahal jika kita merujuk dalam AL-Quran dan As Sunah, duka yang dihadapi oleh para Nabi Allah adalah contoh bagaimana kita dapat secara simultan memiliki kepercayaan pada-Nya dan masih merasakan kesedihan manusia yang sesungguhnya. 

Sebagai contoh, Nabi Muhammad, yang memiliki hubungan paling dekat dengan Allah, merasakan kesedihan yang mendalam setelah kepergian ibunya, istrinya Khadijah, putra-putranya yang meninggal saat masih bayi, dan pamannya Abu Thalib. Nabi Yaqub berduka selama beberapa dekade setelah kematian putranya, Yusuf. 

Membaca tentang pentingnya kesejahteraan psikologis dari perspektif Islam sangat mengharukan bagi saya, karena Islam menekankan pentingnya berhubungan dengan emosi kita. Kita telah menciptakan budaya penindasan kepada diri sendiri padahal sebenarnya, kita didorong untuk mengeksplorasi dan memperdalam hubungan ini dengan diri sendiri.

Apa yang saya temukan paling menarik melalui semua ini adalah pentingnya kesadaran diri dalam Islam. Jika niat kita adalah untuk membantu diri sendiri melalui terapi, perawatan diri, dukungan profesional - ini adalah tindakan ibadah, karena kitasecara inheren memperkuat kemanusiaan dan keimanan. 

Insya Allah kita dapat mengubah nilai-nilai budaya kita untuk memasukkan esensi sejati Islam: perdamaian eksternal dan internal.

 





#30DWCJilid33

#Day19

Friday, November 12, 2021

Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam Zaman Keemasan

 


Penyakit mental disebabkan oleh setan atau roh jahat sebenarnya berasal dari orang Eropa pada periode Abad pertengahan yang memandang penyakit mental terkait dengan setan. Ini adalah kerangka kerja yang paling umum digunakan untuk memahami kesehatan mental yang buruk pada saat itu (Porter, 1999). Dan memang pada akhirnya masih mendasari pemikiran orang awam di zaman modern, khususnya di kalangan komunitas Muslim.

Namun perlu dicatat, bahwa secara historis, dunia Islam memiliki pendekatan yang sangat berbeda terhadap gangguan mental. Perspektif Islam terhadap kesehatan mental lebih holistic, dimana kesehatan mental dan kesehatan fisik yang positif itu saling berhubungan. Para scholar Muslim saat itu, seperti Ibnu Sina (Avicenna, pendiri Kedokteran Modern) justru menolak konsep tersebut dan memandang gangguan mental sebagai kondisi yang didasarkan pada masalah fisiologis.

Dokter dan filsuf di masa lalu, seperti Abu Bakar Muhammad Bin Zakaria Al-Razi and Abu Zayd Al-Balkhi, mengakui penyakit mental sebagai wacana medis dan menganjurkan pendekatan yang seimbang untuk meraih kesejahteraan.

Ini kemudian menyebabkan pendirian bangsal psikiatri pertama di Baghdad, Irak pada tahun 705 M oleh Al-Razi. Ini juga rumah sakit jiwa pertama di dunia. Menurut Al-Razi, gangguan mental dapat diobati dengan psikoterapi dan perawatan obat.

Sebagaimana sabda Rasulullah, “Tidak ada penyakit yang diciptakan oleh Allah, kecuali ia juga menciptakan obatnya.” [Shahih Bukhari]

Islam tidak menuntut kita untuk menjadi manusia super. Jika seseorang mengalami masalah kesahatan mental, ia dodorong untuk mengatasinya, melakukan Tindakan positif yang mungkin atau mencari bantuan profesional jika kasusnya klinis.  Islam memberi Muslim kode perilaku, etika, dan nilai-nilai sosial, yang membantu kita dalam menoleransi dan mengembangkan strategi koping untuk menghadapi peristiwa kehidupan yang penuh tekanan.

Islam mengajarkan bagaimana hidup dalam harmoni dengan orang lain “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al Quran 28: 77)

Al-Ghazali juga menulis mengenai pentingnya kesehatan psikospiritual dan relasinya dalam hubungan kita dengan ALLAH SWT. Dalam Ihya Ulumuddin, beliau menulis, “Ketika Tuhan menginginkan yang terbaik bagi seorang hamba, Dia memberikan kesadaran akan kekurangannya sendiri.” (halaman 256). Ini menekankan pentingnya kesadaran diri kita untuk tidak malu menghubungi profesional jika mengalami masalah kesehatan mental. Pada akhirnya, kesehatan mental itu juga agar kita dapat beribadah secara sebaik-baiknya kepada Allah SWT.


#30DWCJilid33

#Day18

Tuesday, March 20, 2018

10 Manfaat dan Keutamaan Puasa Daud


Sebelum mengulas manfaat dan keutamaan Puasa Daud, teman-teman mungkin sudah tahu apa itu puasa daud. Puasa Daud adalah puasa yang dilakukan secara selang-seling yaitu sehari puasa dan sehari tidak. Puasa Daud adalah sebaik-baiknya puasa dan derajatnya paling tinggi. Puasa Daud ini adalah puasa Nabi Daud a.s. yang mana disampaikan oleh Rasulullah sebagai puasa yang paling utama dan sudah mencakupi puasa sunnah lainnya.

Dalam hadits dikatakan: “Nabi Daud As. biasa tidur seperdua malam dan shalat pada sepertiganya, kemudian tidur lagi seperenamnya. Dan beliau berpuasa satu hari dan tidak berpuasa satu hari.” [HR Bukhari].

Hadits Mengenai Keutamaan Puasa Nabi Daud.

Dari Abdullah bin Amr bin Al’ash, ia berkata bahwa Rasulullah S.A.W mengatakan padanya.

أَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ، وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ ، وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا
 
“Sebaik-baik shalat di sisi Allah adalah shalatnya Nabi Daud ‘alaihis salam. Dan sebaik-baik puasa di sisi Allah adalah puasa Daud. Nabi Daud dahulu tidur di pertengahan malam dan beliau shalat di sepertiga malamnya dan tidur lagi di seperenamnya. Adapun puasa Daud yaitu puasa sehari dan tidak berpuasa di hari berikutnya.” [HR. Bukhari no. 1131].

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda:

لاَ صَوْمَ فَوْقَ صَوْمِ دَاوُدَ ، شَطْرَ الدَّهْرِ ، صِيَامُ يَوْمٍ ، وَإِفْطَارُ يَوْمٍ
 
Artinya : “Tak ada ibadah puasa yang paling afdhol dari pada puasa Daud. Dimana Puasa Daud itu sendiri artinya telah berpuasa sebanyak separuh tahun sebab sehari berpuasa lalu sehari lagi tidak berpuasa begitu pun seterusnya.” (HR. Bukhari no. 6277 dan Muslim no. 1159).
 
Berdasarkan hadits-hadits di atas, diketahui bahwa kedua menegaskan bahwa puasa Daud merupakan puasa paling baik dan paling utama. Bahkan puasa Daud dikatakan lebih baik daripada puasa sepanjang tahun.
 
Dari 'Abdullah bin 'Amru r.a., ia berkata,:

أُخْبِرَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَنِّى أَقُولُ وَاللَّهِ لأَصُومَنَّ النَّهَارَ وَلأَقُومَنَّ اللَّيْلَ مَا عِشْتُ . فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « أَنْتَ الَّذِى تَقُولُ وَاللَّهِ لأَصُومَنَّ النَّهَارَ وَلأَقُومَنَّ اللَّيْلَ مَا عِشْتُ » قُلْتُ قَدْ قُلْتُهُ . قَالَ « إِنَّكَ لاَ تَسْتَطِيعُ ذَلِكَ ، فَصُمْ وَأَفْطِرْ ، وَقُمْ وَنَمْ ، وَصُمْ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ ، فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا ، وَذَلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ » . فَقُلْتُ إِنِّى أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمَيْنِ » . قَالَ قُلْتُ إِنِّى أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ . قَالَ « فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا ، وَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ ، وَهْوَ عَدْلُ الصِّيَامِ » . قُلْتُ إِنِّى أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « لاَ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ »
 
Artinya:

Disampaikan kabar kepada Rasulullah saw. bahwa aku berkata; "Demi Allah, sungguh aku akan berpuasa sepanjang hari dan sungguh aku akan shalat malam sepanjang hidupku." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepadanya ('Abdullah bin 'Amru): "Benarkah kamu yang berkata; "Sungguh aku akan berpuasa sepanjang hari dan sungguh aku pasti akan shalat malam sepanjang hidupku?". Kujawab; "Demi bapak dan ibuku sebagai tebusannya, sungguh aku memang telah mengatakannya". Maka Beliau berkata: "Sungguh kamu pasti tidak akan sanggup melaksanakannya. Akan tetapi berpuasalah dan berbukalah, shalat malam dan tidurlah dan berpuasalah selama tiga hari dalam setiap bulan karena setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa dan itu seperti puasa sepanjang tahun." Aku katakan; "Sungguh aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah". Beliau berkata: "Kalau begitu puasalah sehari dan berbukalah selama dua hari". Aku katakan lagi: "Sungguh aku mampu yang lebih dari itu". Beliau berkata: "Kalau begitu puasalah sehari dan berbukalah sehari, yang demikian itu adalah puasa Nabi Allah Daud 'alaihi salam yang merupakan puasa yang paling utama". Aku katakan lagi: "Sungguh aku mampu yang lebih dari itu". Maka beliau bersabda: "Tidak ada puasa yang lebih utama dari itu".

Lalu bagaimana mengenai keutamaan dan manfaat dari puasa Daud itu sendiri? 

Berikut adalah 10 Keutamaan dan Manfaat Puasa Daud.

1. Bentuk ketaatan terhadap Allah SWT dengan melaksanakan puasa yang paling utama, dan ibadah puasa paling baik. Maka dari itu, insyaa Allah pahala yang kita dapatkan pun akan yang terbaik. Sebagaimana Puasa Daud ini adalah bentuk komitmen dan bukti kecintaan kita terhadap Allah SWT.
 Dalam sebuah hadits Qudsi:

قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى
 
“Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.” (HR. Bukhari no. 1904)

2. Pahala ibadah puasa terbaik. Sebagaimana Puasa Daud adalah bentuk komitmen dan ibadah puasa terbaik kepada Allah SWT, maka Allah tentunya akan memberikan pahala terbaik kepada hamba-Nya dan hanya Allah yang punya kuasa akan amalan itu. Pahala dari amalan puasa tidaklah dilipatgandakan sebagaimana amalan lainnya, amalan puasa sifatnya tidak dibatasi pahalanya. Allah dapat melipatgandakannya berlipat-lipat tanpa ada batasan dan itu terserah pada Allah.

Dalam riwayat Ahmad dikatakan:

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ الْعَمَلِ كَفَّارَةٌ إِلاَّ الصَّوْمَ وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
 
“Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan  puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya”.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan b
ahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)
 
3. Membangun sifat sabar dan pandai mengatur emosi. Dengan rajin berpuasa, maka kita membangun sifat sabar dan dapat mengendalikan emosi dengan baik. Sebab, pada dasarnya, orang yang sedang melakukan ibadah puasa dituntut untuk bisa bersabar dan tidak marah agar pahala puasanya tidaklah sia-sia. Dan jika dia bersabar maka pahalanya tidak terbatas karena Allah sendirilah yang akan memberikan dan melipatgandakan tanpa batasan bilangan.
 
Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
 
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i mengatakan, “Pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa ditakar dan ditimbang. Mereka benar-benar akan mendapatkan ketinggian derajat.” As Sudi mengatakan, “Balasan orang yang bersabar adalah surga.”.

4. Mengimbangi urusan dunia dan urusan akhirat. Karena puasa Daud ini selang-seling, maka porsinya pas untuk mengingatkan kita antara urusan dunia dan urusan akhirat tanpa mengabaikan salah satunya. Allah SWT menyuruh kita beribadah, tapi Allah juga tidak suka jika kita menelantarkan urusan dunia seperti malas-malasan tidak bekerja, tidak menyambung silaturahmi dan lain sebagainya. Allah berfirman:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
 
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (At Taubah 9 : 105).

5. Selama berabad-abad, puasa merupakan salah satu ritual masyarakat untuk memenuhi tuntutan agama. Bagi umat Islam, puasa Ramadhan hukumnya adalah ibadah yang wajib ditunaikan. Namun tahukah kita ternyata puasa juga memiliki manfaat besar pada kesehatan tubuh?
  • Mencegah kanker: Selama berpuasa, laju pembelahan sel dalam tubuh akan berkurang seiring faktor pertumbuhan yang menurun akibat terbatasnya asupan. Penelitian ini membuktikan bahwa hal ini mampu mengurangi risiko kanker.
  • Menjaga berat badan: Pembakaran lemak menjadi energi dapat membantu mengurangi berat badan dan tingkat kolesterol. Turunnya berat badan akan berdampak baik untuk mengendalikan diabetes dan tekanan darah.
  • Bagi ginjal dan lambung: Puasa mengistirahatkan ginjal yang selalu bekerja jika kita memiliki pola hidup dan pola makan yang tidak sehat (konsumtif). Dengan berpuasa, kita telah menunaikan hak badan untuk beristirahat dari makan terus-menerus dan tubuh tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan berat.
Dan masih banyak laginya. Yang mana kalau ditulis perlu bikin artikel baru :D

6. Mengurangi perilaku konsumtif, khususnya pada wanita yang secara emosional sering tidak mampu mengontrol perilaku konsumtif seperti berbelanja hal-hal tidak penting, atau membeli makan-makanan manis yang berlebihan, dsb. Dengan puasa Daud, hal ini dapat meredam perilaku konsumtif khususnya pada perempuan

7. Menjaga mulut dari pembicaraan yang tidak bermanfaat. Seringkali kita memiliki kebiasaan untuk membicarakan orang lain, seperti gosip atau fitnah. Dengan berpuasa khususnya puasa Daud, kita akan selalu teringatkan untuk menjaga mulut dari pembicaraan-pembicaraan yang menyakiti orang lain atau tidak penting.

Untuk itu berhati-hatilah. Hal ini seagaimana disampaikan dalam QS Al Baqarah : 217:

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ۗ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا ۚ وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
 
“Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”.

8. Penawar hawa nafsu. Sebagaimana Nabi Muhammad bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.
 
"Wahai para pemuda! Barang siapa di antara kalian mampu menikah, maka hendaklah segera menikah, dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, sesungguhnya ia bisa menjadi penawar nafsu.".

Fakhrir Ar-Razi mengatakan bahwa puasa menjadi ajang latihan untuk mengendalikan nafsu dan menghindari kecerobohan, juga perbuatan keji. "Hal itu karena puasa mampu menurunkan tensi nafsu perut dan seks," katanya dalam tafsir Muslim: II/770-771, hadis nomor 46.

Karena Puasa Daud adalah puasa dengan frekuensi dan intensitas paling tinggi dari setiap puasa lainnya, maka puasa ini lebih baik dalam menawar hawa nafsu dan menjaga diri dari perbuatan yang keji seperti tensi seks dengan lawan jenis.

9. Mengamalkan puasa daud akan mengingatkan kita untuk menjalani hidup yang sederhana. Kita melatih diri kita untuk lebih bersimpati dan berempati pada lingkungan sekitar, menyumbangkan makanan yang kita miliki pada orang-orang yang lebih membutuhkan, dan menahan diri dari segala sifatnya duniawi.
 
10. Mendapatkan cinta Allah karena amalan yang kontinu sebagai amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
 
"Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. (HR. Muslim no. 783).

Wallahu'alam.

Sunday, March 18, 2018

Hukum Puasa Bulan Rajab


Tepat hari ini umat muslim memasuki bulan Rajab. Lalu saya melihat melalui Google Trend dan Facebook, banyak orang yang mencari dan men-share artikel mengenai niat dan keutamaan puasa bulan Rajab. Pertanyaannya, adakah puasa bulan Rajab itu? Bagaimana hukum puasa bulan Rajab? Apakah puasa bulan Rajab disunahkan oleh Rasulullah?

Ibnu Hajar mengatakan:

“Tidak terdapat riwayat yang sahih yang layak dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, tidak pula riwayat yang shahih tentang puasa rajab, atau puasa di tanggal tertentu bulan Rajab, atau shalat tahajud di malam tertentu bulan rajab. Keterangan saya ini telah didahului oleh keterangan Imam Al-Hafidz Abu Ismail Al-Harawi.” (Tabyinul Ujub bi Ma Warada fi Fadli Rajab, hlm. 6).

Imam Ibnu Rajab juga menegaskan terkait masalah puasa di Bulan Rajab:
.
“Tidak ada satu pun hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan puasa bulan Rajab secara khusus. Hanya terdapat riwayat dari Abu Qilabah, bahwa beliau mengatakan, ‘Di surga terdapat istana untuk orang yang rajin berpuasa di bulan Rajab.’ Namun, riwayat ini bukan hadis. Imam Al-Baihaqi mengomentari keterangan Abu Qilabah, ‘Abu Qilabah termasuk tabi’in senior. Beliau tidak menyampaikan riwayat itu, melainkan hanya kabar tanpa sanad.’ Riwayat yang ada adalah riwayat yang menyebutkan anjuran puasa di bulan haram seluruhnya” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213).

Lalu apakah berpuasa di bulan Rajab hukumnya haram?

.
Tidak haram. Berpuasa di bulan Rajab itu boleh selama tidak diniatkan atau dikhususkan di hari-hari tertentu bulan Rajab saja. Meski dikatakan boleh, sekali lagi tidak diistimewakan. Dan niatnya adalah puasa untuk menambah amalan sunnah di bulan-bulan haram:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ

“Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa (kecuali ramadhan)…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Al-Baihaqi dan yang lainnya. Hadis ini dinilai sahih oleh sebagian ulama dan dinilai dhaif oleh ulama lainnya).

Bulan Rajab termasuk di antara bulan haram. Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

Ingat, niatnya adalah menambah amalan puasa sunnah di bulan-bulan haram. Bukan disyariatkan puasa bulan Rajab.

Diriwayatkan dari Umar Bin Khatab ketika beliau memukul telapak tangan orang-orang yang melakukan puasa Rajab.

كرِهَ أن يَكونَ صِيامُه سُنَّة

“Beliau benci ketika puasa rajab dijadikan sunah (kebiasaan).” (Lathaif Al-Ma’arif, 215).
. 
Selanjutnya dalam sebuah video ceramah Ustadz Abdul Shomad, beliau berkata “Hadis Rasulullah tentang keutamaan bulan Rajab itu sahih, tetapi tak ada disebutkan tentang amalan khususnya. dikatakan ‘Dalam bulan-bulan haram, berpuasalah engkau.’. Yang dimaksud dengan bulan haram itu adalah Dzulqodah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Jadi jika ada orang yang mengatakan mana hadits berpuasa di bulan Rajab? Tak Ada. Yang ada berpuasalah di bulan-bulan haram. Haram di sini berarti mulia, berasal dari kata Bahasa Arab, yaitu hurmatun, berarti kehormatan, mulia. Jadi bulan-bulan haram itu artinya adalah bulan-bulan mulia,” jelas Ustadz Abdul Shomad.

Video Lengkapnya bisa didapati disini:


Jadi kesimpulannya boleh berpuasa di bulan Rajab, selama tidak dikhususkan berpuasa di hari-hari tertentu di bulan Rajab saja. Adapun hadits shohih mengenai berpuasa di bulan Rajab adalah karena bulan Rajab termasuk bulan haram atau mulia. Dimana saat bulan haram ini, kita bisa menambah amalan-amalan sunnah dengan tahajud, dzikir, membaca Al-Quran, bersedekah, dan lain sebagainya. Wallahu'alam.

Artikel Islami Lainnya:


Friday, March 16, 2018

Bacaan Sholat Lengkap dan Artinya

Saya memposting artikel mengenai bacaan sholat lengkap dan artinya ini karena teringat nasihat Ustadz Adi Hidayat dalam ceramahnya mengenai arti bacaan sholat. Kita menghabiskan waktu 6 tahun untuk menempuh SD, 3 tahun menempuh SMP, 3 tahun menempuh SMA, 4 tahun menempuh S1, 2 tahun menempuh S2 dan 4 tahun menempuh S3. Total belajar ilmu dunia 20 tahun. Tapi sudah berapa lama kita memperhatikan arti dari bacaan sholat kita?  Bisa jadi kurangnya khusyu seseorang dalam sholat bisa jadi bukan karena orang itu kurang sholeh, melainkan tidak mengerti apa yang dibaca. Berikut bacaan sholat lengkap wajib berikut artinya:

Takbir

اَللّهُ اَكْبَرُ

Artinya: “Allah Maha Besar 
Bacaan Latin: Allahu Akbar

Bacaan Doa Iftitah
 
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اَللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنَ الْخَطَايَا
كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ


Artinya:
 "Ya Allah, jauhkanlah aku daripada kesalahan dan dosa sejauh antara jarak timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari segala kesalahan dan dosa bagaikan bersihnya kain putih dari kotoran. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku dengan air, dan air salju yang sejuk."

Bacaan Latin:
Allaahumma baa'id bainii wa baina khathaayaaya kamaa baa'adta bainal-masyriqi wal-maghrib. Allaahumma naqqinii min khathaayaaya kamaa yunaqqats-tsaubul -abyadhu minad-danas. Allaahummaghsilnii min khathaayaaya bil-maa'i wats-tsalji wal-barad.

Surat Al-Fatihah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  (١
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  (٢
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  (٣
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ  (٤
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ  (٥
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ  (٦
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ  (٧
 

Artinya:
  1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
  2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
  3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
  4. Yang menguasai di hari Pembalasan.
  5. Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.
  6. Tunjukilah Kami jalan yang lurus.
  7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. 
  8.  
    Bacaan Latin
  1. Bismillaahirrahmaanirrahiim
  2. Alhamdulillaahi rabbil'aalamiin
  3. Arrahmaanirrahiim
  4. Maaliki yaumid-diin
  5. Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin
  6. Ihdinash shiraatal mustaqiim
  7. Shiraatal ladziina an'amta 'alaihim ghairil maghdhuubi 'alaihimwa ladh-dhaalliin. Aamiin
Rukuk

سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

Artinya :"Maha Suci Tuhan Yang Maha Agung serta memujilah aku kepada-Nya."

Bacaan Latin: Subhaana rabbiyal-'adhiimii wa bi hamdih

I’tidal

Ketika bangun dari rukuk, membaca:
سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

Artinya : "Allah mendengar orang yang memuji-Nya."

Bacaan Latin: Sami'allaahu li man hamidah.


Pada waktu berdiri tegak membaca:
رَبَّنَا لَكَ اْلحَمْدُ مِلْءُالسَّمَوَاتِ وَمِلْءُاْلاَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِعْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ


Artinya : "Ya Allah tuhan kami! Bagi-Mu segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang Kau kehendaki sesudah itu."

Bacaan Latin: Rabbanaa lakal hamdu mil'us-samaawaati wa mill-ul-ardhi wa mil'u maa syi'ta min syai'im ba'du.

Sujud

سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلاَعْلَى وَبِحَمْدِهِ

Artinya : "Maha Suci Tuhan Yang Maha Tinggi serta memujilah aku kepada-Nya."

Bacaan Latin: Subhaana rabbiyal a'laa wa bi hamdih

Duduk Antara Dua Sujud

رَبِّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْنِىْ وَاجْبُرْنِىْ وَارْفَعْنِى وَارْزُقْنِىْ وَاهْدِ نِىْ وَعَا فِنِىْ وَاعْفُ عَنِّىْ

Artinya :
"Ya Allah, ampunilah dosaku, belas kasihanilah aku dan cukupkanlah segala kekuranganku dan angkatlah derajatku dan berilah rezeki kepadaku, dan berilah aku petunjuk da berilah kesehatan kepadaku dan berilah ampunan kepadaku."

Bacaan Latin: Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa'nii warzuqnii wahdinii wa 'aafinii wa'fu 'annii.

Tasyahud / Tahiyat Awal

آلتَّحِيَّاتُ اْلمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُالطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًارَسُوْلُ اللَّهِ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَ سَيِّدِ نَامُحَمَّدٍ

Artinya :
"Segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan bagi Allah. Salam, rahmat dan berkah-Nya kupanjatkan kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Salam (keselamatan) semoga tetap untuk kami seluruh hamba yang shaleh-shaleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah! Limpahilah rahmat kepada Nabi Muhammad."

Bacaan Latin:  Attahiyyatuul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibaatu li llaah. Assalaamu 'alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatu llaahi wa barakaatuh, assalaamu 'alainaa wa 'alaa 'ibaadillaahishshaalihiin.Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah.
Allahumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammad.

Tasyahud Akhir

Bacaan tasyahud akhir / tahiyat akhir ialah tahiyat awal yang ditambah dengan shalawat atas Nabi Muhammad, dan lafazhnya sebagai berikut :

وَعَلَى آلِ سَيِّدِ نَامُحَمَّدٍ

Artinya : "Ya Allah! Limpahilah rahmat atas keluarga Nabi Muhammad."

Bacaan Latin: Wa 'alaa aali sayyidinaa Muhammad

Disunnahkan membaca shalawat Ibrahim

كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيِدِ نَآ إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَّيِدِ نَآ إِبْرَاهِيْمَ وَ بَارِِكْ عَلَى سيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيِّدِ نَا إبْرَاهِيَْمَ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِ نَاإِبْرَاهِيْمَ فى اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Artinya : "Sebagaimana pernah Engkau beri rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahilah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya. Sebagaimana Engkau memberi berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Di seluruh alam semesta Engkaulah yang terpuji, dan Maha Mulia."

Bacaan latin: Kamaa shallaita 'alaa sayyidinaa Ibrahiim wa 'alaa aali sayyidinaa Ibrahiim wa baarik 'alaa sayyidinaa Muhammad wa 'alaa aali sayyidinaa Muhammad. Kamaa baarakta 'alaa sayyidinaa Ibrahiim wa 'alaa aali sayyidinaa Ibrahiim fil-'aalamiina innaka hamiidum majiid.

Disunnahkan juga membaca doa terlindung dari fitnah dajjal.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِجَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

Artinya: “Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksaan kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal.

Bacaan Latin: Allaahumma inni a’uudzubika min ‘adzaabil qabri wa min ‘adzaabinnaari jahannama wa min fitnatil mahyaa wal mamaati wa min fitnatil masiihid dajjaal.

Salam

اَلسَّلَا مُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُ اللهِ

Artinya : "Keselamatan dan rahmat Allah semoga dilimpahkan pada kalian."

Bacaan Latin: As-salaamu 'alaikum wa rahmatullaah


You Might Also Like:

Pencarian
  • arti bacaan sholat pdf
  • bacaan sholat dan terjemahannya
  • tuntunan bacaan sholat lengkap
  • download bacaan sholat dan artinya
  • arti bacaan sholat perkata
  • bacaan sesudah sholat
  • bacaan sholat lengkap

Sunday, March 11, 2018

15 Manfaat dan Keutamaan Sholat Dhuha


Mengenai Keutamaan Sholat Dhuha dan Manfaat Sholat Dhuha, saya merangkum beberapa hadits tentang sholat dhuha yang dapat dirangkum sebagai berikut. Bisa jadi makna dari hadits-hadits tersebut jauh lebih luas lagi, namun sebagai seorang Muslim kita mengetahui bahwa memang manfaat dan keutamaan sholat dhuha ini banyak sekali.


Memenuhi sedekah di setiap sendi-sendi tubuh.


Diriwayatkan dari Buraidah a bahwa ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, “Pada diri manusia terdapat tiga ratus enam puluh tiga ruas. Ia memiliki kewajiban bersedekah atas setiap ruas tersebut.” Para sahabat bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan hal itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Ludah di dalam masjid yang ia timbun (dibersihkan) atau sesuatu (penghalang) yang ia singkirkan dari jalanan (bisa mewakili kewajiban sedekah). Jika engkau belum mampu, dua rakaat shalat Dhuha sudah memadai untuk mewakili kewajibanmu bersedekah”. (HR. Ahmad, 5: 354. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih ligoirohi).


Dari Abu Dzar al-Ghifari ra, ia berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: “Di setiap sendiri seorang dari kamu terdapat sedekah, setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan lailahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat Dhuha diberi pahala,” (HR Muslim).


Sholatnya orang yang bertaubat.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda. “Shalat awaabiin (orang-orang yang kembali kepada Allah) adalah ketika anak-anak unta sudah merasa kepanasan” Diriwayatkan oleh Muslim.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda  “Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib 1: 164).


Digolongkan sebagai orang yang taat.


“Barangsiapa yang shalat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditulis sebagai orang yang lalai. Barangsiapa yang mengerjakannya sebanyak empat rakaat, maka dia ditulis sebagai orang yang ahli ibadah. Barangsiapa yang mengerjakannya enam rakaat, maka dia diselamatkan di hari itu. Barangsiapa mengerjakannya delapan rakaat, maka Allah tulis dia sebagai orang yang taat. Dan barangsiapa yang mengerjakannya dua belas rakaat, maka Allah akan membangun sebuah rumah di surga untuknya.” (HR. At-Thabrani).


Dicatat sebagai seorang ahli ibadah dan tidak dicatat sebagai seorang yang lalai.


“Barangsiapa yang shalat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditulis sebagai orang yang lalai. Barangsiapa yang mengerjakannya sebanyak empat rakaat, maka dia ditulis sebagai orang yang ahli ibadah. Barangsiapa yang mengerjakannya enam rakaat, maka dia diselamatkan di hari itu. Barangsiapa mengerjakannya delapan rakaat, maka Allah tulis dia sebagai orang yang taat. Dan barangsiapa yang mengerjakannya dua belas rakaat, maka Allah akan membangun sebuah rumah di surga untuknya.” (HR. At-Thabrani).


Wasiat khusus Rasulullah Sallahu ‘alaihi wassalam.


“Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia berkata, ‘Kekasihku (Rasulullah) memberikan pesan (wasiat) kepadaku dengan tiga hal yang tidak pernah aku tinggalkan hingga aku meninggal nanti. Yaitu puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha, dan tidur dalam keadaan sudah mengerjakan shalat witir’.” (HR. Bukhari).


Dalam kondisi tertentu, imbalannya setara dengan haji dan umrah.


Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barang siapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan `umrah…” (Shahih al-Targhib: 673).


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mengerjakan shalat Shubuh berjama’ah di masjid, lalu dia tetap berada di dalamnya sehingga dia mengerjakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang menunaikan ibadah haji atau orang yang mengerjakan umrah, sama persis (sempurna) seperti ibadah haji dan umrahnya”. Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmidzi no. 586. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).


Dilakukan di waktu yang sangat penting.


“Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari, demi bulan apabila mengiringinya, demi siang yang menampakkannya, demi malam apabila menutupinya, demi langit serta membinanya, demi bumi serta penghamparannya, demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Dia mengilhamkan kepadanya kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya”(QS. As-Syams:1-10).


Pada pembukaan surah AdDhuha, Allah berfirman, ”Demi waktu dhuha.” Imam Arrazi menerangkan bahwa Allah SWT setiap bersumpah dengan sesuatu, itu menunjukkan hal yang agung dan besar manfaatnya. Bila Allah bersumpah dengan waktu dhuha, berarti waktu dhuha adalah waktu yang sangat penting.


Diampuni dosa-dosanya meski sebanyak buih-buih di lautan.


“Siapa pun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan,” (HR Tirmidzi).



Dibangunkan sebuah rumah di surga.


Bagi yang rajin mengerjakan shalat Dhuha, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di dalam surga. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits Nabi Muahammad saw: “Barangsiapa yang shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surga,” (Shahih al-Jami`: 634).


Diriwayatkan dari Anas secara marfu’ Rasulullah bersabda, “Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha sebanyak dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga.” ”. (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah).


Sedangkan shalat Dhuha yang dikerjakan dua belas rakaat ditunjukkan oleh hadits Abud Darda Radhiyallahu ‘anhu, di mana dia bercerita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.: “Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditetapkan termasuk orang-orang yang lengah. Barangsiapa shalat empat rakaat, maka dia tetapkan termasuk orang-orang yang ahli ibadah. Barangsiapa mengerjakan enam rakaat maka akan diberikan kecukupan pada hari itu. Barangsiapa mengerjakan delapan rakaat, maka Allah menetapkannya termasuk orang-orang yang tunduk dan patuh. Dan barangsiapa mengerjakan shalat dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di Surga. Dan tidaklah satu hari dan tidak juga satu malam, melainkan Allah memiliki karunia yang danugerahkan kepada hamba-hamba-Nya sebagai sedekah. Dan tidaklah Allah memberikan karunia kepada seseorang yang lebih baik daripada mengilhaminya untuk selalu ingat kepada-Nya” Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani.


Masuk surga melalui pintu istimewa.


Nabi Muhammad saw bersabda,”Di dalam surga terdapat pintu yang bernama bab al dhuha (pintu dhuha) dan pada hari kiamat nanti ada  yang memanggil,’dimana orang yang senantiasa mengerjakan shalat dhuha?’inilah pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang (rahmat) Allah”.


Menyehatkan tubuh.


Sebagaimana waktu dhuha dilakukan saat di pagi hari hingga menjelang siang, seperti itu pula olahraga. Dan memang sudah diketahui bahwa gerakan-gerakan tubuh saat sholat itu memiliki manfaat yang sama dengan olahraga seperti melancarkan peredaran darah, meluaskan rongga udara di paru-paru, menguatkan otot dan lain sebagainya.


Dicukupkan rezeki dan penuhi kebutuhan dan urusannya pada hari itu hingga sore hari.


Dari Abu Darda’ ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW berkata: Allah ta`ala berkata: “Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat dari awal hari, maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu (ganjaran) pada sore harinya” (Shahih al-Jami: 4339). 


“Diriwayatkan dari Nu‘aim bin Hammar a bahwa ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad (5/286), Abu Daud no. 1289, At Tirmidzi no. 475, Ad Darimi no. 1451 . Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih).


Diberikan keselamatan pada hari tersebut.


“Barangsiapa yang shalat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditulis sebagai orang yang lalai. Barangsiapa yang mengerjakannya sebanyak empat rakaat, maka dia ditulis sebagai orang yang ahli ibadah. Barangsiapa yang mengerjakannya enam rakaat, maka dia diselamatkan di hari itu. Barangsiapa mengerjakannya delapan rakaat, maka Allah tulis dia sebagai orang yang taat. Dan barangsiapa yang mengerjakannya dua belas rakaat, maka Allah akan membangun sebuah rumah di surga untuknya.” (HR. At-Thabrani).


“Diriwayatkan dari Nu‘aim bin Hammar a bahwa ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad (5/286), Abu Daud no. 1289, At Tirmidzi no. 475, Ad Darimi no. 1451 . Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih).


Penulis ‘Aunul Ma’bud –Al ‘Azhim Abadi- menyebutkan, “Hadits ini bisa mengandung pengertian bahwa shalat Dhuha akan menyelematkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan. Bisa juga dimaksudkan bahwa shalat Dhuha dapat menjaga dirinya dari terjerumus dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya bisa lebih luas dari itu.” (‘Aunul Ma’bud, 4: 118).


At Thibiy berkata, “Yaitu  engkau akan diberi kecukupan dalam kesibukan dan urusanmu, serta akan dihilangkan dari hal-hal yang tidak disukai setelah engkau shalat hingga akhir siang. Yang dimaksud, selesaikanlah urusanmu dengan beribadah pada Allah di awal siang (di waktu Dhuha), maka Allah akan mudahkan urusanmu di akhir siang.” (Tuhfatul Ahwadzi, 2: 478).


Sebuah keuntungan/ghanimah yang besar.


Dari Abdullah bin `Amr bin `Ash radhiyallahu `anhuma, ia berkata: “Rasulullah saw mengirim sebuah pasukan perang.  Nabi saw berkata: “Perolehlah keuntungan (ghanimah) dan cepatlah kembali!”. Mereka akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan (tempat) perang dan banyaknya ghanimah (keuntungan) yang akan diperoleh dan cepat kembali (karena dekat jaraknya).  Lalu Rasulullah saw berkata; “Maukah kalian aku tunjukkan kepada tujuan paling dekat dari mereka (musuh yang akan diperangi), paling banyak ghanimah (keuntungan) nya dan cepat kembalinya?” Mereka menjawab; “Ya!” Rasul SAW berkata lagi: “Barangsiapa yang berwudhu’, kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan shalat Dhuha, dia lah yang paling dekat tujuanannya (tempat perangnya), lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat kembalinya,” (Shahih al-Targhib: 666).


Simpanan Amal Cadangan.


Rasulullah SAW menjelaskan dalam haditsnya; “Sesungguhnya yang pertama kali dihisab pada diri hamba pada hari kiamat dari amalannya adalah sholatnya. Jika benar (sholatnya) maka ia telah lulus dan beruntung, dan jika rusak (sholatnya) maka ia akan kecewa dan rugi. Jika terdapat kekurangan pada sholat wajibnya, maka Allah berfirman, ‘Perhatikanlah, jikalau hamba-Ku memiliki sholat sunah maka sempurnakanlah dengan sholat sunahnya sekadar apa yang menjadi kekurangan pada sholat wajibnya. Jika selesai urusan sholat, barulah amalan lainnya.” (H.R. Ash-habus Sunan dari Abu Hurairah RA).

Related Posts:

Pencarian:
  • manfaat sholat dhuha bagi wanita
  • manfaat sholat dhuha untuk kecantikan
  • manfaat sholat dhuha untuk jodoh
  • manfaat sholat dhuha 4 rakaat
  • keutamaan sholat dhuha dan doanya
  • keutamaan sholat dhuha dan tahajud
  • keajaiban sholat dhuha
  • manfaat sholat dhuha bagi kesehatan
    keajaiban sholat dhuha
  • fadhilah sholat dhuha yang mengagumkan
  • keutamaan sholat dhuha pdf

Related Posts Plugin by ScratchTheWeb